Testimonial Partisipasi dalam Experiental Learning Workshop di Malang

20140606_100754_1024x768
Kabar gembira adalah ketika ODOS  ditawarkan oleh IBU Foundation untuk mengikuti workshop tentang “Sustainable Livelihood in Emergency Respons / Disaster Risk Reduction” dan langsung turun kelapangan.  Kebetulan saya yang ditunjuk oleh ODOS untuk mengikuti  workshop ini.

Saya menuju Sekretariat IBU Foundation di Srimahi, Bandung dan bertemu dengan dua teman baru dari ApePeBe (Aliansi Pemuda Peduli Sinabung),  Iwan dan Beny. Disambut oleh Teh Rika sebagai Koordinator  workshop kali ini, ada juga Kang Nined yang menjadi relawan IBU Foundation saat ODOS melakukan joint ops ke Subang beberapa bulan lalu. Hal yang paling mengejutkan adalah ternyata IBU Foundation berulang tahun di hari itu. Selamat ulang Tahun IBU Foundation!

Hari Pertama

Hari pertama kami diisi dengan istirahat seusai menempuh perjalanan 16 jam di kereta. Dimalam hari adalah sesi “curhat” dari Wawan si relawan dari IBU Foundation yang sudah 3 bulan menjalankan program di sana. Kamidijelaskan tentang keadaan yang terjadi di Desa Pandansari, Pujon, Malang.

Ada 7 Dusun yang didampingi oleh IBU selama tiga bulan ini, mereka didampingi dalam program Psikososial. Tujuan utama dari program ini adalah mengembalikan aktifitas rutin warga yang sempat hilang saat bencana agar tidak terjadi penumpukan stress yang berlebihan pasca bencana.

Lain hal kami juga membahas tentang program yang akan dibuat oleh IBU untuk masyarakat Desa Pandansari.  Ada dua program yang akan dibuat, program pengelolaan sampah dan program pemberdayaan pekarangan untuk tanaman obat dan tanaman rumah tangga (sayuran, bumbu,dst).

 

Hari Kedua

Dimulai dengan bangun kesiangan, kami langsung meluncur menuju salah satu PAUD di Desa Pandansari, di sana saya dan teman-teman berbincang dengan pengajar untuk mengetahui bagaimana keadaan psikologis balita pasca bencana dan bagaimana keadaan PAUD di sana.

Beranjak dari PAUD kami menuju salah satu  Dusun yang ada di Desa Pandansari. Disambut dengan waduk buatan yang indah, lalu saya melewati sungai yang ternyata salah satu aliran lahar dingin. Masuk ke desa, ternyata secara umum kondisinya sudah lumayan membaik, tidak ada tumpukan abu vulkanik yang banyak dan aktivitas warga sudah berjalan normal.DSC_3057_1024x685

Tibalah kami di rumah Ibu Kepala Dusun, di sana kami berdiskusi tentang kedua program yang akan dibuat. Saya mulai belajar tentang karakter masyarakat yang ada di sana, dan juga saya belajar tentang bagaimana caranya untuk melakukan pendekatan dengan masyarakat yang terdampak bencana agar tidak terjadi kesalahpahaman karena masyarakat yang terdampak bencana tidak mudah mempercayai orang luar yang tiba-tiba masuk walau dengan niat baik sekalipun.

Selesai berdiskusi dengan Ibu Kepala Dusun, saya menuju Dusun lain. Wawan mengajak saya dan rombongan melihat salah satu lokasi di mana jembatan penghubung antara pemukiman warga dan lahan pertanian terputus. Namun sekarang sudah dibangun sebuah jembatan sederhana yang didanai oleh IBU Foundation. Setelah sore menjelang, kamipun kembali ke rumah mister Bambang.

Malam harinya saya dan teman-teman melanjutkan agenda yang sudah dijadwalkan, yaitu mulai merancang program yang akan kami buat. Sebelum diskusi, teman-teman dari Sinabung bercerita tentang keadaan disana. Dan menariknya adalah kami yang ada disitu menjadi gregetan karena Sinabung seakan terlupakan. Akhirnya kami malah mendesain gerakan agar Sinabung dapat diperhatikan, baik masyarakat maupun pemerintah karena menurut kami ekspose media sangat-sangat kurang. Dengan modal tulisan dan celotehan saya di media sosial, akhirnya malam itu juga ada telepon dari salah satu portal berita di Jakarta yang tertarik dengan issue yang sedang berusaha kami angkat.

Hari Ketiga

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Pagi hari, kami langsung menuju PAUD yang kemarin kami datangi untuk memberikan materi tentang pengenalan objek pribadi (kasus JIS) dan melakukan body movement yang diberikan langsung oleh Teh Rika dari IBU Foundation.

Setelah puas bermain dengan adik-adik disana, kami langsung menuju Balai Desa Pandan Sari untuk memberikan sosialisasi tentang program yang akan IBU buat. Perwakilan dari tujuh Dusun datang kesana dengan rasa yang sangat antusias. Hal yang saya rasa akan sulit didapat dari masyarakat perkotaan. Materi pengelolaan sampah diberikan oleh Mbak Dian (Relawan IBU) yang selama ini telah menerapkan pengelolaan sampah dilingkungannya.

Malam harinya, kami melanjutkan diskusi tentang program di salah satu kedai kopi disana. Disana saya berjumpa dengan Kang Erwin yang didatangkan langsung dari Surabaya oleh Teh Rika untuk membantu kami dilapangan. Kang Erwin ini dulu adalah relawan di IBU, dan kini sudah bekerja di salah satu NGO Internasional yang mengurusi tentang imigran gelap. Diskusi dan berbagi pengalaman. Berkah luar biasa bagi saya yang bukan siapa-siapa.

Hari keempat

Sekitar pukul sebelas pagi kami berangkat menuju Coban Rondo, menggunakan mobil yang sudah disediakan oleh mister Bambang. Coban Rondo adalah salah satu obyek wisata air terjun yang ada di Malang, daerah tertinggi di Pujon itu cukup dingin di siang hari.

Agenda pertama kami adalah pemberian materi oleh Teh Rika tentang “Sustainable Livelihood in Emergency Respons / Disaster Risk Reduction”. Seperti biasa, dalam hal apapun kami tidak pernah bisa jauh dari canda. Dan itu sangat membuat semua agenda yang ada menjadi sangat menyenangkan.

Setelah diberikan materi, kami langsung diminta untuk menerapkan materi tersebut dengan kondisi yang terjadi di lokasi kami masing-masing. Saya dan kang Erwin ditempatkan bersama teman-teman Sinabung untuk membuat Pentagon Asset sesuai arahan Teh Rika. Dan kamipun berdiskusi bersama untuk membuat itu semua dalam waktu dua jam. Penyiksaan level kecil dimana kerangka ini harusnya dikerjakan dengan waktu minimal lima hari. Tapi kembali lagi, tidak ada diskusi yang berat jika bersama teman-teman ini.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Setelah setiap kelompok selesai membuat tugasnya, satu persatu mempresentasikan apa yang sudah dibuatnya. Kami berkembang dari hari kehari, pelajaran didapat dengan cara yang menyenangkan.

Agenda selanjutnya adalah Body Movement, tapi berhubung hari sudah menjelang gelap terpaksa kami membatalkan agenda itu. Dengan tidak diisi dengan body movement dan tidak melihat air terjun, kami turun dari Coban Rondo menuju kedai kopi dimana kami melanjutkan agenda selanjutnya, yaitu merumuskan anggaran untuk program pengolahan sampah dan pemberdayaan pekarangan. Usai menyelesaikan agenda terakhir, kami bernyanyi bersama disana. Layaknya seperti perpisahan pada umumnya, ritual malam terakhir ini kami isi dengan canda dan tawa. Karena kami pasti akan merindukan malam itu.

 

Begitu kurang lebih cerita saya dan teman-teman dari hari kehari selama di daerah Pujon, Malang. Terima kasih kepada IBU Foundation yang telah memberikan saya kesempatan untuk berkembang, membuka mata bahwa bencana itu terjadi bukan hanya pada saat bencana terjadi tapi juga pasca bencana. Tanpa peran serta Pemerintah, NGO, dan masyarakat para masyarakat terdampak tidak bisa berbuat apa-apa.DSC_3159_1024x423

Terima kasih untuk Teh Rika atas setiap pelajaran yang diberikan tanpa memandang saya yang bukanlah siapa-siapa. Terima kasih untuk Iwan Cungir dan Benny Pasau dari ApePeBe atas keteladanan dalam melayani masyarakat Sinabung yang terkatung-katung selama sembilan bulan terakhir. Terima kasih untuk Kang Nined dan Kang Wawan untuk kesederhanaan dan semangat dalam membantu para masyarakat terdampak di Desa Pandansari, Malang.

Kalian luar biasa.

Jakarta, 18 Juni 2014

Jody Bany Wicaksono

ODOSMov

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPrint this pageEmail this to someone