Agresifitas Anak (Part 3)

Penulis: Dewinta Fertila, M.Psi

dewinta_99@yahoo.com

 

Agresifitas pada anak perlu dikontrol bukan untuk dihilangkan, karena sangat boleh menjadi marah dan kemudian mengontrol kemarahan tersebut. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengontrol agresifitas anak.

1. Penguatan terhadap tingkah laku baik yang dilakukan anak. Misalnya berikan penghargaan pada anak ketika ia bisa bermain bersama tanpa bertengkar dengan saudaranya selama 5 menit misalnya.

2. Abaikan kemarahannya, tidak tersulut, karena anak sedang belajar menanggulangi frustrasi yang dimilikinya. Peran orangtua adalah memperhatikan keselamatan dan keamanan anak saat anak marah.

3. Ajari kemampuan sosial, karena anak sering berkelahi karena mereka memiliki keterbatasan kemampuan sosial untuk membicarakannya. Ajak anak berdiskusi dan membicarakan hal-hal lain apa yang bisa dilakukan ketika ia merasa ingin memukul temannya.

4. Jika anak sudah bisa berhitung, saat akan memukul, minta ia menghitung sampai 10, kemudian berbicara bahwa ia tidak suka diperlakukan seperti itu (melatih asertivitas). Minta mereka mengulanginya sehingga menjadi perilaku yang otomatis.

5. Mengurangi paparan model agresif yang bisa ditiru anak. Saatnya mengevaluasi kembali tontonan dan bacaan anak yang mempertontonkan agresifitas dalam menyelesaikan permasalahan. Dampingi anak saat menonton dan membaca, dan secara rutin tanya apa yang dirasakan anak dari tontonan dan bacaan tersebut, bolehkan bersikap seperti itu, bagaimana sebaiknya. Termasuk disini adalah tontonan dan bacaan yang penuh dengan agresi pasif seperti menghina, melecehkan, atau menertawakan orang lain.

6. Memberikan alternatif lain untuk mengungkapkan kemarahan, yang bisa lebih diterima, tidak merugikan orang lain. Misalnya dengan memukul bantal, berteriak dibantal, meninju samsak, dan lain sebagainya.

7. Time out bisa dilakukan. Ketika ia mengacak-acak mainannya saat marah maka ia tidak boleh bicara selama waktu tertentu (2-5 menit) tidak berisik, tidak melakukan apa-apa. kalau berisik langsung diulang lagi. Setelahnya ia wajib membersihkan atau membereskan kekacauan yang dilakukan. Peluk dan katakan bahwa anda menyayanginya.

Semua tahapan ini perlu dilakukan sehingga memberi pesan bahwa bukan dirinya yang kita benci, tapi tingkah laku merusaknya yang tidak ditolerir. Ketika ia menerima hukuman, dan membereskan kesalahannya, maka perilaku itu sudah dimaafkan.

Sumber bacaan:
Orton, Geraldine. (1997). Strategies for Counseling With Children and Their Parents. USA: Brooks/Cole Publishing Company