Cerita Perubahan: ‘Cemplung’ sebagai Implementasi Misi Organisasi

Dini Zakia

Volunteer IBU

Pada masa awal terlibat dalam masa kerja di IBU, saya masuk dalam divisi baru dari perubahan struktur kepemimpinan Yayasan di tahun 2014. Divisi tersebut adalah KomJeP (Komunikasi dan Jejaring Publik). Selama berada dalam divisi ini, segala yang dijalankan dapat disebut sebagai proses belajar bagi saya. Hal-hal yang menjadi tanggung jawab kerja merupakan hal yang terbilang baru, seperti publikasi yang memerlukan kemampuan digital dan grafis yang baik, membangun hubungan baik dengan mitra organisasi, memahami setiap program yang sedang dijalani IBU yang akhirnya mengharuskan saya untuk paham juga mengenai logika program, pembuatan rencana strategi, hingga penerapan administrasi baik dalam keuangan maupun laporan program. Kewajiban-kewajiban tersebut mengasah kemampuan saya baik untuk kemampuan yang tadinya tidak dapat saya lakukan sama sekali, maupun yang sudah bisa dilakukan dan menjadi terkuasai.
Satu tahun bergelut di bidang komunikasi, tim eksekutif memberikan tantangan sekaligus kesempatan bagi saya. Saya dianggap sudah cukup memiliki ‘bekal’ untuk diberikan tanggung jawab yang lebih besar. Ketika datang kesempatan tawaran program baru yang berbasis strategi komunikasi, saya seperti kembali mengalami proses pembelajaran di awal namun dengan wadah yang lebih besar.

dscf4051_800x600
Diskusi Dengan Mitra dari TBM FK UI

Sebagai pribadi yang cukup mengenal diri sendiri, saya menyadari bahwa salah satu cara agar saya memiliki energi dan semangat yang cukup agar konsisten dalam menghadapi tantangan dan pembelajaran baru adalah dengan membawa ‘hal’ selain diri sendiri. Supervisor saya sangat menyadari hal tersebut. Dalam projek SMSbunda ini, saya seolah-olah diberikan kantong besar bernama IBU. Ada nama di dalamnya yang harus saya bawa dan turut menjadi tanggung jawab untuk dijaga kredibilitasnya. Benar saja, ketika membawa kantong besar bernama IBU, saya bisa memecut diri saya sendiri untuk disiplin, satu-satunya hal tersulit untuk diatasi sejak lama kini terselesaikan hanya dengan waktu satu minggu pembiasaan perubahan.

DSCF7587_1600x1200
Berinteraksi bersama peserta di kegiatan sosialisasi Program SMSbunda

Bekal yang didapatkan selama masa awal pembelajaran di KomJeP dimanfaatkan sebagai modal dalam projek SMSbunda ini. Seperti memahamai logika program. Saya jadi mampu memecah strategi implementasi program ke dalam perencanaan bulanan, membuat cash flow, delegasi tugas kepada tim, mengatur jadwal sehari-hari, menentukan prioritas pelaksanaan program, mempersiapkan keperluan kegiatan yang akan datang, dan masih banyak lagi. Selain itu, pengalaman berjejaring dengan pemerintah terasa lebih ringan dihadapi.
Tantangan yang masih dijalani secara perlahan-lahan dalam projek ini adalah kemampuan saya dalam proses pengambilan keputusan, beberapa kali saya didampingi oleh supervisor saya untuk hal ini. Beliau memberikan ‘wejangan-wejangan’ mengenai bagaimana caranya menghadapi situasi di lapangan (yang tentu saja berbeda dengan perencanaan) terkait dengan perubahan pengambilan keputusan yang harus ditentukan oleh saya, namun tetap dalam strategi program yang dijalani. Saya juga banyak mendapatkan esensi seorang pemimpin dari supervisor saya. Dalam hal memfasilitasi tim kerja misalnya. Walaupun masih meraba-raba, saya juga ingin membuat rekan kerja saya dalam projek ini turut merasai proses belajar yang didapatkan selama melaksanakan tanggung jawab mereka. Bahwasanya pekerjaan apabila dinikmati dan dilakukan tepat waktu, akan memberikan manfaat dan pengaruh pada pengembangan kapasitas diri. Terlepas dari perbedaan perkembangan yang terjadi dalam diri masing-masing.
Sampai saat ini, saya merasa bahwa perubahan yang dialami bisa saya dapatkan hanya dengan satu cara: menjalani dan mengalaminya secara langsung. Selama menjalaninya, saya menyadari bahwa karakteristik dan sistem kerja di Yayasan IBU dipenuhi dengan metode belajar yang bervariasi. Tuntutan hasil pekerjaan merupakan urutan kedua. Proses pencapaiannya adalah yang utama bagi seluruh tim. Dengan cara ‘dicemplungkan’ ke dalam satu kolam penuh tanggung jawab, berenang di dalamnya, apabila tenggelam dan kehabisan nafas sesekali, pelampung siap dilemparkan untuk jeda mengatur nafas. Dari proses tersebut, banyak cara yang saya dapatkan untuk belajar. Dengan bimbingan dan dampingan supervisor secara berkala sebagai pelampungnya, pengembangan kompetensi tim secara berkesinambungan sebagai bagian dari misi organisasi benar-benar terlaksana.

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPrint this pageEmail this to someone