Penerapan Kegiatan Belajar Mengajar Anak Usia Dini

 

Narasumber: Laila Qodariah, M.Psi (Psikolog, Dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran)

Penyusun: Dilla Arnanda (Mahasiswi Psikologi Universitas Padjajaran)

 

Sering mendengar ungkapan bahwa anak usia dini merupakan tahapan golden age? ungkapan ini juga didukung oleh pernyataan seorang psikoanalis, Sigmund Freud yang mangatakan bahwa 5 tahun awal kehidupan manusia sangat penting untuk menentukan kehidupannya kedepan.
Anak usia dini adalah mereka yang berada pada usia 0 hingga 6 tahun. Berdasarkan teori perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget, anak pada usia ini berada pada tahapan pra-operasional yang merupakan tahap awal pembentukan konsep secara stabil. Pada tahapan pra-operasional, penalaran mental anak mulai muncul dan egosentrisme menguat (kemudian melemah seiring pertambahan usia). Piaget membagi tahapan pra-operasional menjadi dua subtahap, pertama subtahap fungsi simbolik (2-4 tahun). Pada subtahap tersebut anak mulai mampu membayangkan secara mental objek yang tidak ada, berkembangnya egosentrisme, dan animisme yang merupakan pemikiran bahwa benda yang tidak bergerak memiliki kualitas “semacam kehidupan”. Kedua, subtahap pemikiran intuitif (4-7 tahun). Pada subtahap ini anak mulai menggunakan penalaran intuitif dan rasa ingin tahu yang tinggi dengan bertanya akan segala hal. Tahap pra-operasional dapat juga dikatakan sebagai usia anak pra-sekolah. Dunia kognitif anak pra-sekolah adalah dunia kreatif, bebas, dan menyenangkan sehingga dibutuhkan fasilitas yang sesuai agar anak dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya dengan baik. Oleh karena itu, pendidikan anak usia dini perlu diperhatikan.
“Usia dini adalah masa dimana anak bermain, eksploratif, banyak bertanya. Harusnya dengan karakteristik seperti itu lingkungan memfasilitasi ke arah situ”, ungkap Laila Qodariah, M.Psi, dosen Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran sekaligus psikolog di bidang perkembangan anak. Beliau lanjut menuturkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk anak usia dini, seperti play group, pendidikan anak usia dini (PAUD), dan taman kanak-kanak (TK) perlu memperhatikan karakteristik anak usia dini. “Berdasarkan pengalaman dan melihat berbagai jenis PAUD, khususnya di Jawa Barat, ada pro dan kontra karena ada PAUD yang menerapkan program sesuai dengan karakteristik anak usia dini dengan menerapkan bermain sebagai kegiatan utamanya dan ada juga PAUD yang menerapkan tuntutan terlalu tinggi terhadap anak di luar tahap perkembangan yang seharusnya. Hal tersebut membuat di satu PAUD tugas perkembangan anak dapat terfasilitasi, tapi di PAUD yang lainnya belum terfasilitasi dengan baik. Banyak PAUD yang mengutamakan tujuan seperti anak harus sudah bisa menulis dan lancar membaca tanpa mempertimbangkan tugas perkembangan anak pada usia tersebut. Ini yang harus menjadi perhatian kita agar tiap PAUD memahami terlebih dahulu karakteristik anak usia dini”, ujar Mba Laila.
Secara umum, PAUD atau play group sebaiknya sudah dapat memfasilitasi perkembangan anak usia dini dengan banyak permaianan yang cukup seimbang antara outdoor dan indoor karena terkait kemampuan motoriknya pun anak harus berkembang. “Aneh juga pada zaman sekarang untuk masuk SD anak dituntut untuk bisa baca tulis. Kalau ga bisa ya ga lulus. Kalau mau dibenahi dari ujungnya dulu. Persepsi mainstream yang mengatakan bahwa anak masuk SD harus bisa baca tulisnya diubah dulu. Sebenarnya boleh saja mengenalkan anak usia dini baca, tulis, dan berhitung kalau anaknya sudah ready. Mungkin bisa jadi masukan juga untuk guru-guru TK, misalnya ada pedoman terkait karakteristik-karakteristik anak-anak yang sudah siap, seperti reading readiness atau math readiness. Jadi kalau ada anak yang menunjukkan karakteristik siap untuk diberikan baca tulis dan berhitung boleh saja diberikan. Berarti anak tersebut sudah matang, sudah siap untuk menerimanya. Justru kalau anak-anak yang sudah menunjukkan kesiapan kalau tidak dikasih hal yang baru akan merasa bosan. Jadi untuk anak usia dini ini perlu adanya pendekatan individual, tidak bisa dipukul rata karena kemampuan anak berbeda. Idealnya (perbandingannya) guru PAUD 1:4, atau maksimal 1:5 dengan murudnya agar tiap anak dapat diamati, tidak satu guru dalam satu kelas yang menghadapi puluhan anak”, jelas Mba Laila lebih lanjut.
Menurut Mba Laila, pada jaman sekarang begitu banyak metode yang berkembang, seperti Montessori, Waldorf, Multiple Intelligent, dll yang sebetulnya kembali harus dilihat terkait karakteristik anak. Sekarang kebanyakan ibu-ibu di kawasan urban cenderung memilih trend tanpa melihat karakteristik anak dengan metode yang sesuai. Jika di desa, seperti di sekitar Jatinangor dan Tanjung Sari yang menjadi permasalahan adalah sumber daya manusia karena guru PAUD disana bukan berasal dari latar belakang pendidikan yang berhubungan dengan pendidikan anak usia dini, bahkan ada yang lulusan SMP. Karena PAUD yang di desa biasanya gurunya dari orang tua, seperti kader PAUD, dan bisa jadi orang tua belum memahami karakteristik anak usia dini.

 

Sumber:
– Santrock, John W. 2011. LIFE-SPAN DEVELOPMENT 13th Edition. New York: McGraq-Hill Companies, Inc
– Wawancara langsung dengan narasumber
– Materi kuliah Psikologi Perkembangan

Editor: Iqbal Maulana

Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on Google+Share on LinkedInPrint this pageEmail this to someone