Cara Menghadapi Ketakutan dan Kecemasan Pada Anak

Penulis: Dewinta Fertila, M.Psi

dewinta_99@yahoo.com

Hal yang dapat disimpulkan adalah rasa takut dan cemas merupakan hal yang normal bagi perkembangan anak. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan adalah memberikan respon yang baik ketika anak memiliki ketakutan tertentu sesuai dengan usia perkembangannya. Hal yang perlu menjadi perhatian orang dewasa dan orang yang ada di sekelilingnya adalah sebagai berikut:

  • Membahasakan kepada anak tentang apa yang dirasakannya, sehingga anak kemudian memperoleh kesempatan untuk mengenali emosi yang dimilikinya. Misalnya anak 4 tahun yang menjerit ketika lampu mati di malam hari, maka respon yang baik adalah : kamu menjerit ya? Takut ya kamu nak? Jadi gelap, tidak kelihatan apa-apa ya?
  • Memberikan respon menenangkan, misalnya dengan memeluk anak, atau mengusap-usap bahunya. Pada kejadian mati lampu misalnya, setelah merespon jeritan anak, bisa dilakukan dengan peluk anak, tenangkan anak, berikan minum jika perlu.
  • Mencontohkan anak melakukan pemecahan masalah. Terhadap anak yang takut gelap misalnya, ajak anak untuk mencari lilin dan kemudian menyalakannya, mencari senter, sehingga bisa tertangani masalah tersebut.
  • Diskusi pada saat anak telah tenang, atau lampu telah menyala, untuk memberikan kesempatan kepada anak menceritakan pengalamannya sekaligus mengenali respon badannya terhadap kondisi yang membuatnya ketakutan. Misalnya setelah lampu kembali menyala, anak bisa ditanyakan bagaimana pengalaman takutnya. Jantungnya berdebar-debarkan, otot-ototnya menegangkah (misalnya otot tangan), suaranya jadi terdengar kencang sekali. Dari situ kemudian bisa dimasukkan pengetahuan bahwa takut itu ada pada setiap orang, bukan hanya dia saja.

Hal-hal yang sebaiknya dihindari dilakukan kepada anak

  • Membanding-bandingkan dengan anak lain atau saudaranya sendiri. Misalnya:kok lampu mati aja kamu takut begini? Tuh adik kamu, perempuan lagi, ngga jerit-jerit kayak kamu. Tidak ada anak yang senang dibandingkan dengan orang lain, dan terutama sekali itu tidak akan membuatnya menjadi tidak takut gelap, malah bisa saja kemudian dia memandang dirinya lebih tidak bisa apa-apa dibanding adiknya yang perempuan.
  • Menjadikan sumber ketakutan anak sebagai “senjata” agar ia menjadi patuh. Misalnya saja: kalau kamu ngga nurut, mama pergi. Hal ini kemudia akan menambah ketakutan anak dan menjadikan anak lebih waspada ketika melihat orangtuanya tidak ada di sekitarnya. Pada tahapan lanjutnya kemudian anak memandang dirinya adalah pihak yang salah ketika kemudian memang ayah atau ibunya pergi meninggalkan rumah karena permasalahan pernikahan misalnya.
  • Memberikan label pada anak, misalnya label pengecut, penakut dan sebagainya. Seringkali cap yang diberikan kepada anak dilakukan oleh orang-orang terdekat anak. Cap negatif yang disematkan kepada anak akan melukai harga diri anak, membuatnya tidak percaya diri, dan kemudian bisa saja memberikan permasalahan psikologis yang lebih serius. Jika pun ingin mengkritik, lakukan kritik terhadap TINGKAH LAKU anak, bukan mencapnya. Misalnya ketika anak melemparkan benda-benda saat dia marah, maka kita kritik perilaku melempar bendanya tersebut, bukan mengatakan ia anak yang susah diatur.

Note:

Jika ketakutan dan kecemasan anak sudah terjadi dengan ekstrim misalnya menangis yang tidak terkontrol, sering terbangun karena mimpi buruk, atau takut tidak sesuai dengan usia perkembangannya, maka perlu dipertimbangkan untuk berkonsultsi dengan pihak profesional untuk mencari pertolongan.

 

Sumber bacaan : Schroeder S. Carolyn & Betty N. Gordon. (2002). Assessment & Treatment of Chilhood Problems 2nd ed. (pp 262-267).