Karawana Berlomba

Ditulis oleh: Tito Panggabean (Project Coordinator) dan Wawan Kurniawansyah (Volunteer IBU)

Jum’at sore (4/1) di Desa Karawana, Kabupaten Sigi merupakan hari pembukaan lomba. Dengan judul “Karawana Berlomba” IBU Foundation bersama pemuda, remaja, perangkat desa, dan komunitas umumnya mengadakan kegiatan lomba yang bertujuan untuk mengembalikan keceriaan dan harapan masyarakat akibat bencana gempa dan tsunami yang terjadi pada 28 September 2018 lalu.

Tentu masih terngiang dalam ingatan kita, gempa dengan 7,4 skala richter dan diikuti tsunami serta likuifaksi mengakibatkan kondisi ekonomi, kondisi psikososial masyarakat Sulawesi Tengah, khususnya daerah Kabupaten Sigi dalam kondisi yang memprihatinkan. Lomba yang rencana pelaksanaanya mulai 4-13 Januari ini bukanlah lomba yang “spektakular”. Namun harapannya dengan adanya kegiatan lomba ini yang sebelumnya telah biasa dilaksanakan masyarakat Desa Karawana ketika memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus untuk mengembalikan kehidupan masyarakat Desa Karawana seperti sebelum adanya bencana terjadi.

Adapun jenis lomba yang akan dilaksanakan diantaranya lomba makan kerupuk, teknisnya kerupuk yang telah digantung tali, peserta harus memakannya sampai habis tanpa bantuan tangan. Ada juga lomba tarik tambang bertujuan membangun kerja sama antar peserta. Pertandingan bola volley antar dusun yang merupakan lomba yang paling popular di situ. Lomba balap karung dan balap kelereng.

Sekretaris Desa Karawana membuka kegiatan lomba. Dalam pidatonya beliau menyebut bahwa lomba ini bukanlah untuk mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah. Lomba ini bertujuan membuat masyarakat desa Karawana kembali memiliki rasa percaya diri, setelah terjadi bencana yang membuat shock, cemas, dan lainnya yang berhubungan dengan gejala psikologis seseorang. Lomba ini difasilitasi atas kerjasama IBU Foundation dan masyarakat Desa Karawana. Selain lomba, ada juga kegiatan untuk meningkatkan keyakinan dan memohon kekuatan untuk dijauhkan dari musibah. Dimana anak-anak, remaja, dan para orang tua diingatkan kembali akan kuasa Ilahi melalui kegiatan pengajian dan tausyiah-tausyiah agama. Dzikir dan doa bersamapun selalu dilakukan untuk memohon ampun kepadaNya.

Sore itu, terlihat tawa riang anak-anak, saling pengertian para remaja dalam acara perlombaan setidaknya memberi penyejuk bagi mereka yang terus menerus ditimpa rasa cemas dan khawatir. Semoga dengan adanya kegiatan psikososial ini dapat mengembalikan rasa percaya diri pada anak-anak, remaja, dan para keluarga yang tertimpa bencana dan harapan baik itu tetap tumbuh dan nyata. Arah ke sana sudah nampak. Harapan masyarakat Desa Karawana untuk kembali ke kondisi normal mulai terasa. Tiga pilar kebutuhan dasar perlahan bisa terpenuhi; pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Seperti anak- anak usia sekolah kembali aktif mengikuti kegiatan belajar mengajar. Kegiatan jual beli kembali hidup, pasar mulai ramai, dan balai pengobatan dan klinik berjalan kembali.