Cerita tentang Pak Sahzan

Ada  pesan WhatsApp masuk. Saya buka, seketika ada hati yang rindu melihat swafoto yang dikirimkan. Swafoto saya berdua bersama Pak Sahzan. Pak Sahzan, begitu kami relawan IBU memanggil beliau. Pak Sahzan, salah satu relawan lokal IBU dari Desa Lombonga, Kabupaten Donggala.

Ketika pertama kami mau foto bersama beliau berkata bahwa foto itu yang akan disimpannya baik-baik jika rindu katanya. “Uh, Pak Sahzan bisa saja.”

“Foto bersama bang Awan, kalau rindu bisa lihat-lihat.”

Tidak saya sendiri. Semua para relawan IBU yang lain, beliau ajak foto bersama. Didatangi satu persatu “Boleh foto bersama?” “cekkrekk” hampir semua relawan IBU swafoto bersama beliau. Hehe.

Waktu itu adalah hari terakhir Lokakarya Dukungan Psikososial Terstruktur yang dilaksanakan selama empat hari untuk peserta relawan lokal di Kota Palu. Pak Sahzan menyempatkan diri untuk membeli baju baru. Saya kira buat oleh-oleh. Nyatanya, baju buat ditandatangani.

“Baju ini untuk minta semua tanda tangan relawan IBU Foundation. Akan saya simpan buat kenang-kenangan.”

Saya mengenal beliau pertama kali pada hari penutupan lomba tim anak dan remaja di Desa Lombonga. Pada pagi hari, beliau datang ke rumah Ibu Asliani (relawan lokal Lombonga). Dengan kaki dan seluruh tangan penuh sisa-sisa potongan rumput-rumput hijau.

“Loh, dari mana Pak Sahzan?” Tanya bang Iwan (relawan IBU).

“Habis bersihkan rumput. Biar rapi sedikit, Bang Iwan. Karena entar malam, bapak Wakil Bupati itu akan hadir pas penutupan lomba. Kasih rapilah sedikit kita punya lapangan.”

Sendirian, beliau membersihkan rumput-rumput tinggi di lapangan Desa Lombonga. Sambil sesekali Pak Sahzan “menutup” kotoran-kotoran sapi dengan pasir yang ada di belakang stadion. Maklum, disana sapi-sapi ternak itu dibiarkan berkeliaran.

“Setelah subuh tadi saya langsung kerjakan. Ini hanya sedikit.”

Pak Sahzan. Pak Sahzan.

Bahkan ketika acara Learning Event (serah terima kegiatan IBU kepada relawan lokal di desa dampingan), beliau pun datang. Acara itu dilakukan di enam desa, dari Sigi sampai Donggala. Desa yang paling jauh adalah Lombonga, asal desa Pak Sahzan. Tiga jam lama perjalanan dengan mobil dari Kota Palu. Di Sigi, desa paling ujung adalah Desa Bangga, lama perjalanan memakan hampir dua jam dari Kota Palu. Tidak kenal jauhnya jarak Desa Lombonga ke Desa Bangga, beliau tetap datang mengendarai sepeda motornya.

Di wilayah Donggala lain yaitu Desa Loli tasiburi beliau hadir. Di Desa Beka, datang. Di Desa Sibalaya utara, beliau tidak ketinggalan. Hanya di Desa Karawana beliau tidak datang, karena waktu pelaksanaannya tepat sehari setelah kegiatan dilakukan di Desa Lombonga.

“Ini menyambung silaturahmi bersama relawan lokal yang lain. Biar panjang umur.” Ujar beliau dengan senyum khasnya.

Saya (Kiri) dan Pak Sahzan (Kanan)
Saya (Kiri) dan Pak Sahzan (Kanan)

Minggu (31/3), peresmian dan penutupan Rumah Kencana di Desa Lombonga. Konon, ada air mata Pak Sahzan yang ditahan untuk tidak jatuh di pipinya. Air mata yang beliau sembunyikan untuk tidak terlihat sedih di depan teman-teman relawan IBU, karena perpisahan.

Setelah mengambil foto bersama, beliau tersenyum kembali. Tetap dengan air mata yang tidak jatuh di pipi.

Terima kasih Pak Sahzan. Doa baik kami, sehat-sehat, pak.

 

Sekotak Awan.