Annual Partnership Conference 2023

Sebagai salah satu mitra dari Save the Children Indonesia sejak lama, IBU Foundation terlibat aktif dalam kegiatan Konferensi Kemitraan Tahunan dan Penguatan Kapasitas Organisasi pada tanggal 12-15 Desember 2023 di Hotel Aloft South Jakarta. Kegiatan ini diikuti oleh Muhammad Fandy Sarjono (CEO of IBU Foundation) dan Ari Hadyan Mustamsik (Finance Manager of IBU Foundation).

Save the Children Indonesia (SCIDN) sejak tahun 2020 mulai mengembangkan kemitraan di berbagai lini program; baik untuk pelaksanaan program, pengembangan jaringan dan aliansi, maupun untuk tujuan strategis lainnya. SCIDN ke depan akan membangun kemitraan yang lebih kuat dengan berbagai pihak seperti: pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, kelompok profesional, LSM/Organisasi Masyarakat Sipil, Organisasi Berbasis Masyarakat, media, termasuk Kelompok Anak dan Remaja. Kemitraan ini bertujuan untuk menyatukan kekuatan dalam mewujudkan perubahan yang berkelanjutan bagi anak-anak di Indonesia. Pada tahun 2022, mitra-mitra SCIDN mengimplementasikan lebih dari 24% dari portfolio anggaran program.

Konferensi kemitraan tahunan dan penguatan kapasitas organisasi ini telah menjadi wadah untuk mempertemukan perwakilan dari berbagai mitra (baik mitra pelaksana maupun mitra strategis), perwakilan Pemerintah Indonesia, sektor swasta, masyarakat sipil termasuk anggota kelompok anak-anak & pemuda yang terlibat dalam kemitraan, akademisi, dan media, untuk berbagi praktik dan pengalaman kemitraan antar mitra di seluruh negeri dan untuk memperkuat peran lembaga yang aktif bekerja untuk memperkuat agenda pelokalan di Indonesia.

Saat ini, SCIDN telah bekerja sama dengan lebih dari 60 organisasi mitra di tingkat lokal/regional; dan sebagian besar adalah LSM/Organisasi Masyarakat Sipil yang bertindak sebagai mitra pelaksana program dimana sebagian besar keterlibatan mereka adalah keterlibatan jangka pendek untuk tanggap darurat kemanusiaan. Selain itu, Children and Youth Advisory Networks (CYAN) telah dibentuk di 9 provinsi di Indonesia. Namun demikian,  SCIDN menyadari bahwa jaringan kemitraan/aliansi atau kemitraan strategis belum dimanfaatkan untuk tujuan program pembangunan dan kesiapsiagaan tanggap darurat kemanusiaan. Oleh karena itu, penting untuk membangun kemitraan yang tidak hanya terfokus pada mitra pelaksana program, namun juga mampu melibatkan dan menggerakkan seluruh ekosistem untuk pemenuhan hak-hak anak.

START Networks – Seven Dimensions of Localisation

SCIDN baru-baru ini telah menyelesaikan Rencana Strategis tiga tahun di mana kemitraan disorot sebagai salah satu faktor pendukung utama untuk mengatasi tantangan lokal dan pemanfaatan potensi masa depan secara optimal untuk berkontribusi dalam mencapai masa depan yang aman bagi anak-anak, RPJMN, SDGs, serta visi dan misi SCI. Selain itu, SCIDN yang bertujuan untuk memperkuat pendekatan kemitraan, yang diambil dari Tawaran Besar Sektor Kemanusiaan, START Network membagi Pelokalan ke dalam tujuh dimensi utama:

  1. Pendanaan
  2. Kemitraan
  3. Kapasitas
  4. Revolusi Partisipasi
  5. Mekanisme Koordinasi
  6. Visibilitas
  7. Pengaruh Kebijakan

Untuk konferensi tahun 2023 ini, SCIDN bekerja sama dengan Lokanusa; sebuah forum yang digagas untuk mengumpulkan ide, gagasan, konsep, dan cerita terkait praktik-praktik pelokalan di Indonesia. Hingga September 2023, Lokanusa telah menyelenggarakan 6 seri diskusi dengan tema-tema antara lain: model-model pelokalan bantuan kemanusiaan di Indonesia, tawar-menawar besar dan pentingnya pengetahuan lokal untuk aksi kemanusiaan di Indonesia, pengukuran kinerja pelokalan dalam konteks Indonesia, pelopor pelokalan di Indonesia, kesetaraan kemitraan dalam perspektif pelokalan, dan kebijakan pengelolaan dana aksi kemanusiaan dalam konteks Indonesia. Sebagai sebuah forum yang fokus pada penyebaran konsep lokalisasi, SCIDN telah berkolaborasi dengan Lokanusa untuk memperkuat ekosistem lokalisasi di Indonesia, dengan menggabungkan pengalaman yang dibawa oleh Save the Children dan praktik-praktik membumi dari Lokanusa dalam memajukan lokalisasi di Indonesia. 

Pada konferensi ini, Muhammad Fandy Sarjono sebagai CEO IBU Foundation bersama dengan Shilvia Marliani sebagai Ketua Youth Advisory Council (YAC) melalui sesi talkshow juga berbagi praktik baik, pembelajaran, dan tantangan yang didapatkan dalam Pelokalan pada Program Skill to Succeed (StoS) / Program Kesiapan Kerja bagi Orang Muda dengan Disabilitas. Fandy menyampaikan setidaknya ada 2 hal:

  1. Tantangan dalam upaya menghilangkan faktor penghambat: Stigma dan diskriminasi
    “Tidak sedikit pelaku usaha atau penyedia lapangan pekerjaan yang masih memiliki stigma terhadap difabel. Maka, tugas kami adalah turut memastikan bahwa orang muda dengan disabilitas difasilitasi untuk mendapatkan berbagai pelatihan baik soft skill dan hardskill. Salah satunya kami bekerjasama dengan BKK. Hal ini dilakukan untuk mendorong kesadaran penyedia lapangan pekerjaan terhadap kapasitas orang muda dengan disabilitas. Akhirnya, setelah mereka memiliki kapasitas, beberapa dari perusahaan/penyedia lapangan pekerjaan sudah terbuka untuk menerima orang muda dengan disabilitas untuk magang atau bekerja. Setidaknya ada 31 orang muda dengan disabilitas di Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kota Cimahi yang telah magang berbayar dan ada lebih dari 19 perusahaan yang membuka lapangan pekerjaan bagi orang muda dengan disabilitas.”

    Aksesibilitas
    “Kalau kita berbicara tentang aksesibilitas, itu tidak hanya tentang fisik dan infrastruktur namun juga akses terhadap informasi, akses untuk komunikasi, dan akses untuk mengambil keputusan. Pada hal ini YAC sangat berperan penting. Melalui YAC mereka bisa saling berbagi informasi misalkan dalam lowongan pekerjaan, mereka bisa saling mengajak teman-teman yang lain untuk ikut berkegiatan, dan suara mereka bisa lebih kuat dan didengar dalam kegiatan kampanye atau advokasi.”

    Terbatasnya sumber daya
    “Ketika kita berbicara tentang hal ini erat kaitannya dengan penyediaan akomodasi yang layak. Kita juga perlu menyesuaikan dengan kebutuhan dari setiap individu orang muda dengan disabilitas sesuai dengan masing-masing hambatan. Sebagai contoh paling gampang adalah teman tuli membutuhkan JBI (Juru Bahasa Isyarat) dan teman Netra beberapa membutuhkan pendamping. Maka dari itu, sebagai organisasi kami perlu memastikan bahwa dalam perencanaan program hal ini perlu dipertimbangkan. Sebagai contoh lain adalah dalam proses magang, tidak semua perusahaan/pelaku usaha mengalokasikan dananya untuk setidaknya transportasi dan konsumsi. Untuk itu, di awal kami meng-cover itu semua, namun ternyata lama-kelamaan perusahaan bersedia untuk mengalokasikan dananya untuk akomodasi peserta magang. 

  2. Tantangan dalam mendukung partisipasi bermakna dan pemberdayaan: Pelibatan di setiap proses
    “Saya lebih setuju bahwa istilah penerima manfaat (beneficiaries) menjadi peserta program. Kalau ada penerima brarti ada pemberi maka ada penerima manfaat serta ada pemberi manfaat. Ini artinya ada relasi kuasa, ada yang di atas dan ada yang di bawah. Sedangkan sebetulnya orang muda dengan disabilitas memiliki kapasitas untuk terlibat dalam semua proses, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, monitoring, dan evaluasi “nothing about us without us”. Dalam praktik kami, ini dilakukan dengan kontribusi aktif dari SLB. Koordinasi yang intens dengan mereka, monitoring secara rutin dan lain-lain.”

    Pengembangan Kapasitas
    “Ternyata masih banyak sekali kebutuhan pelatihan bagi orang muda dengan disabilitas dalam hal kesiapan kerja. Dari banyaknya kebutuhan, tetap kami perlu membuat skala prioritas. Pelatihan ini dilakukan tidak hanya untuk orang muda dengan disabilitas tapi juga kepada guru dan orang tua. Mereka mengikuti pelatihan softskill dan hardskill serta komunikasi untuk meningatkan kemampuan dalam berpartisipasi yang bermakna.”

    Kolaborasi dan kemitraan
    “Membangun kemitraan dengan pemerintah, sektor swasta (IDUKA), dan sekolah menjadi bagian yang tidak terpisahkan. Pemerintah dapat mendukung dalam upaya pembaharuan kebijakan yang berpihak pada anak termasuk orang muda dengan disabilitas, kemudian IDUKA (Industri dan Dunia Kerja) dapat meningkatkan kesempatan dan peluang kerja bagi orang muda dengan disabilitas, dan sekolah dapat secara intens mendukung, memotivasi, dan memfasilitasi para siswanya untuk mempersiapkan ke dalam dunia kerja.”

Sedangkan Shilvia juga menyampaikan beberapa pengalaman berharganya dalam mengelola YAC dan juga di dalam Program Skill to Succeed:

  1.  Pembelajaran dan praktik baik:
    “Saya mengikuti program Soft Skill/Kesiapan Kerja dari Yayasan IBU sejak tahun 2021. Saat itu saya kelas 2 SMA. Saya belajar kesiapan kerja. Saya belajar tentang bagaimana berkomunikasi yang baik, mengelola stress, mengenal diri sendiri, potensi diri. Kami juga belajar tentang bagaimana membuat CV, mengikuti proses wawancara kerja. Saya hanya ikut pelatihan. Hanya sebagai peserta. Tahun 2022, Yayasan IBU mulai mengajak saya menjadi pewawancara (Enumerator)  Survei kepada adik-adik Tuli di SLB lainnya. Dan kami juga mulai membentuk YAC bersama orang muda disabilitas lainnya, dan mulai sering berdiskusi tentang bagaimana orang muda disabilitas mendapatkan kesempatan kerja.  Kami menjadi teman diskusi IBU tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan, tempat kegiatan dan topik advokasi.  Kami terlibat sebagai panitia acara Job Fair, membantu perusahan menjelaskan  informasi kepada teman disabilitas. Untuk advokasi, kami memilih tema utamanya adalah bagaimana perusahaan memberi kesempatan pada disabilitas untuk bekerja. Bagi saya, keterlibatan dalam program ini membuat saya memiliki harapan lebih besar. Saya melihat teman-teman tuli dulu susah mendapat pekerjaan, sekarang sudah semakin banyak. Program yang saya ikuti ini benar-benar untuk kebutuhan disabilitas karena disabilitas ingin mandiri, untuk masa depan dan berkontribusi bagi negara.”
  2. Tantangan:
    “Masih banyak Perusahaan yang belum memberi kepercayaan pada disabilitas untuk bekerja. Jadi harus terus di cari solusinya.”
  3. Saran/Rekomendasi:
    “Lebih banyak mengajak disabilitas berdiskusi dan mencari solusi bersama. Sebagai ketua YAC saya juga akan mencari tahu, menampung informasi dan membagikan informasi apapun  dari teman-teman disabilitas lainnya. Ada teman yang mencari pekerjaan, dan Ketika ada informasi lowongan, kami YAC saling bebagi informasi.”
Workshop Objectives and Indicative Agendas:

Selain kegiatan Proposal Writing dan Finance Training, Konferensi Kemitraan Tahunan ini memiliki lima tema dengan agenda dan hasil yang spesifik:

  1. Dimensi Pelokalan dalam Konteks Indonesia: SCIDN memiliki 7 dimensi untuk mengukur implementasi pelokalan. Terlepas dari 7 dimensi ini, penting untuk mengetahui apakah ada dimensi lain yang dapat dieksplorasi untuk memperkuat pelokalan.
  2. Strategi Penguatan Kapasitas Organisasi Lokal: Salah satu tujuan pelokalan adalah pergeseran kekuasaan. Artinya, setiap CSOs lokal harus memiliki kapasitas yang baik sebagai sebuah organisasi. Berbagi kapasitas adalah salah satu cara untuk memperkuat pelokalan, terutama bagi CSOs lokal. Oleh karena itu, penting untuk mendiskusikan strategi untuk mengimplementasikan pembagian kapasitas yang efektif bagi CSOs lokal.
  3. Pelajaran yang Dipetik dari Pelokalan: Saat ini, pelokalan telah diimplementasikan di banyak proyek oleh CSO lokal dan aliansi global. Penting untuk mengetahui praktik terbaik dari CSO lokal dan aliansi global sebagai contoh bagi para peserta.
  4. Pemeriksaan kesehatan hubungan mitra, tujuh dimensi SCIDN dari tahap Pelokalan saat ini, dan langkah ke depan: Tema ini akan menjelaskan refleksi atas praktik kemitraan saat ini melalui lensa pendekatan kemitraan, kebijakan SCI dan SCIDN, serta visi untuk mencapai masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di Indonesia.
  5. Isu-isu strategis dalam CSOs lokal: Tema ini akan membantu peserta mengidentifikasi isu-isu strategis di wilayah mitra.

Ada juga Ignite Stage dengan beberapa tema:

  1. Strategi untuk Mendorong Partisipasi Anak yang lebih Bermakna dalam Desain Program Pembangunan dan Kemanusiaan dalam Konteks Pelokalan.
  2. Krisis Iklim: Aksi Antisipatif dalam Penanggulangan Bencana.
  3. Pentahelix dan Strategi Membangun Ketangguhan Daerah.
  4. Restorasi Ekomomi Lokal untuk Ketangguhan.
  5. Dampak Tahun Politik bagi Civil Society Organisation (CSO).
  6. Penggunaan Teknologi Digital sebagai Ruang Keterlibatan Anak Muda dalam Konteks Nexus Pembangunan, Krisi Kemanusiaan dan Konflik.
Methodology & Participants:

Annual Partnership Conference ini menggunakan metodologi yang beragam untuk memfasilitasi pertukaran ide dan informasi antara para peserta. Pertama, speaker presentations memberikan platform untuk ahli dan praktisi berbagi wawasan mendalam mereka tentang topik terkini dan relevan. Kemudian, open forum discussion memberikan kesempatan kepada peserta untuk berpartisipasi aktif, mengajukan pertanyaan, dan berbagi pengalaman. Panel Discussion melibatkan mitra-mitra regional SCIDN dalam percakapan terfokus untuk mendiskusikan isu-isu kunci. Terakhir, group presentations memungkinkan kelompok peserta untuk menyajikan hasil diskusi atau pekerjaan bersama, mendorong kolaborasi dan pemahaman yang lebih mendalam. Metodologi ini digunakan untuk menciptakan lingkungan konferensi yang dinamis, interaktif, dan mendukung pertukaran pengetahuan yang efektif. 

Kegiatan ini dihadiri oleh mitra-mitra SCIDN diantaranya adalah:

  1. Executive Director, Head of Programme and Head of Finance from partner organisations.
  2. High level policy makers from government and private sectors.
  3. Academia, Media, Civil Society including Children & Youth Group.
  4. Senior Management Team, Boards, Head of Department/Functions, and other members of Save the Children Indonesia.
  5. Technical Experts (Advisers) from Save the Children Indonesia.
  6. Technical Experts from external.
  7. Local CSO and Global Alliance.

IBU Foundation berkomitmen terhadap kemitraan dengan Save the Children Indonesia melalui program-program melalui 7 Dimensi Pelokalan. Kami tidak hanya berkomitmen untuk memberikan dukungan teknis, tetapi juga untuk terlibat secara aktif dalam inisiatif-inisiatif lokal secara strategis yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan anak-anak di Indonesia. IBU Foundation dan Save the Children Indonesia berharap dapat memberikan dampak positif yang lebih besar dan berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya anak-anak yang berada dalam situasi yang rentan dan atau berisiko. Kemitraan ini mencerminkan tekad bersama untuk menciptakan perubahan yang signifikan dan memberikan harapan kepada generasi mendatang.


Penulis: Amanda Fauzia Pratiwi (Publication Officer)

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *