Rapid Need Assessment Sumedang Earthquake

Pada Minggu, 31 Desember 2023, pukul 20:34:24 WIB, masyarakat Kabupaten Sumedang dikejutkan guncangan gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,8 dengan kedalaman 5 km. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa terletak di darat dengan koordinat 107,94 BT dan 6,85 LS, berjarak sekitar 1,5 km timur Kota Sumedang, Provinsi Jawa Barat.

Dalam merespon kejadian ini, Yayasan IBU mengirimkan tim asesmen ke Kota Sumedang dengan tujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai kebutuhan masyarakat, khususnya terkait kebutuhan ibu dan anak, dalam situasi bencana ini. Hasil asesmen ini akan menjadi dasar untuk menentukan respons selanjutnya yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

Berdasarkan hasil pengumpulan data sekunder, wawancara langsung, dan observasi yang dilakukan dalam Rapid Need Assessment, data sekunder memberikan konteks luas dan mendukung temuan dari metode lainnya, sementara wawancara langsung memberikan wawasan langsung tentang kebutuhan mendesak dan kendala yang dihadapi oleh masyarakat. Observasi lapangan menjadi kunci untuk memahami dampak fisik dan respons komunitas secara langsung.

Data terbaru yang dikumpulkan Pemerintah Kabupaten Sumedang per 4 Januari 2023, dampak gempa bumi yang menguncang Sumedang telah merusak 1.325 bangunan di 12 kecamatan diantaranya 1.019 rusak ringan, 176 rusak sedang dan 130 rusak berat. Masyarakat terdampak diantaranya 10 orang mengalami luka-luka diantaranya 9 luka ringan, 1 luka berat, dan tidak ada korban meninggal atau hilang. Sampai hari keempat ini tercatat ada sebanyak 1.603 jiwa mengungsi di 10 titik pengungsian. Tercatat di 4 kecamatan terdapat 505 KK, 1,603 Jiwa yang mengungsi. Terdapat 1 titik pengungsian terbesar ada di Kelurahan Kota Kaler, Kecamatan Sumedang Selatan dan 9 lainnya tersebar dibeberapa wilayah. Setidaknya terdapat 3 Kecamatan yang paling terdampak dan menjadi pusat pengungsian yaitu Kecamatan Sumedang Selatan, Kecamatan Cimalaka, dan Kecamatan Sumedang Utara.

Asesmen dilakukan kepada masyarakat paling berisiko yang terdampak gempa bumi di setiap wilayah yang paling terdampak. Berikut jumlah pengungsi di 3 wilayah yang dikunjungi, yaitu Kota Kaler, Kp Babakan Hurip, Cimuja, dan Cipameungpeuk.

Berdasarkan dari hasil RNA, beberapa temuan kunci telah berhasil di identifikasi. Hal ini berisi tentang gap kebutuhan pengungsi dan beberapa catatan yang melatarbelakangi gap tersebut:

  • Dukungan psikososial yang telah diberikan kepada penyintas di beberapa posko belum dilakukan secara terpadu. Hal ini karena adanya pergantian relawan di satu posko dan durasi waktu yang terbatas.
  • Sebagai pengalaman pertama masyarakat Kabupaten Sumedang dilanda gempa bumi, sebagian besar dari mereka masih tidak tahu bagaimana tindakan yang perlu dilakukan saat terjadi gempa termasuk anak-anak. Hal ini ditambah adanya beberapa gempa susulan yang terjadi di Sumedang membuat sebagian masyarakat merasa panik dan cemas. Tidak seperti informasi tentang sesar lembang yang sudah tersebar masif, penyebab gempa Sumedang juga masih dalam proses identifikasi oleh para ahli. Dengan demikian, masih banyak masyarakat Kabupaten Sumedang yang tidak menyadari bahwa ada ancaman gempa bumi di wilayah mereka sebelumnya.
  • Penanganan bencana gempa bumi di Sumedang di nilai masih belum inklusif. Hal ini dilihat dari tidak adanya data pilah, adanya beberapa kelompok rentan/berisiko yang tidak mendapatkan akses kebutuhan dasar dengan baik dan tidak mendapatkan akomodasi layak ketika mereka berada di pengungsian. Hal ini disebabkan adanya gap kapasitas dari aktor kemanusiaan di Kabupaten Sumedang terkait penanggulangan bencana yang inklusif. Selain itu juga sampai saat ini belum teridentifikasi kelompok disabilitas yang terlibat dalam respon kemanusiaan ini.

Suka artikel ini?

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *