Pengekspresian emosi pada Balita, perlukah?

Ditulis oleh: Dewinta Fertila, M.Psi

Pada pengertian awam, emosi sering dipadankan katanya dengan amarah, ngamuk, menggebrak meja, mata melotot, suara tinggi, yang diakibatkan karena tidak suka dengan perilaku atau kata-kata yang ditujukan pada dirinya. Jika ditilik dari pengertiannya, padanan kata itu tidak sepenuhnya benar. Emosi mengacu kepada kepada karakteristik seseorang untuk bereaksi terhadap sesuatu hal, pada kondisi tertentu. Rasa bangga, rasa senang, sebenarnya adalah juga bentuk emosi selain dari rasa marah. Emosi yang positif akan berdampak pada kesehatan, sementara emosi yang negatif akan berhubungan dengan sakit atau kondisi fisik yang tidak sehat. Emosi merupakan sesuatu yang kompleks, berpola, merupakan reaksi manusia terhadap apa yang manusia lakukan dalam hidup, yang dengannya manusia bisa bertahan dalam kehidupan dan mendapatkan apa yang diinginkan (Lazarus, 1991).

Jika melihat pada status manusia sebagai makhluk sosial yang memerlukan interaksi dengan manusia lainnya, maka perhatian terhadap perkembangan emosi pada anak merupakan salah satu fokus penting dalam evaluasi perkembangan anak, apakah sesuai dengan usia nya, ataukah ada keterlambatan ataupun gangguan yang memerlukan intervensi tertentu dengan tentu saja melihat karakteristik anak sebagai individu yang khas. Tabel di bawah menunjukkan perkembangan emosi anak dari 0-4 tahun (Boyd & Bee, 2010)

      USIA                                       PERKEMBANGAN EMOSI
0-1 bulan Pada usia ini bayi telah bisa memberikan ekspresi ketertarikan, sakit, jijik, dan ekspresi senang
1-4 bulan Ekspresi marah dan sedih terlihat pada bayi usia 2-3 bulan. Pada usia ini bayi juga telah bisa membedakan ekspresi emosi yang berbeda terhadap orang yang berbeda. Dia bisa menunjukkan ekspresi senang terhadap ibunya, dan ekspresi marah terhadap orang lain misalnya.
4-8 bulan Pada rentang usia ini, bayi mulai menunjukkan rasa cemas, takut, ketika berpisah, ketika bertemu dengan orang asing, orang yang tidak dikenalnya. Bahkan pada usia 6-7 bulan, bayi telah bisa menunjukkan ekspresi takut.
8-12 bulan Bayi mulai menunjukkan ketertarikan lebih dengan lingkungannya, senang mengundang senyum orang-orang yang berada di sekitarnya
12-18 bulan Pada usia ini, ketakutan untuk bertemu dengan orang asing mulai berkurang, demikian juga ketakutan untuk berpisah dengan figur yang dikenal
18-24 bulan Anak mulai menunjukkan ekspresi bangga, malu, ataupun sungkan.
2-4 tahun Anak mulai mengidentifiaksi identitas kelamin (laki-laki dan perempuan) pada usia 2 tahun yang terus berkembang dan menguat pada usia 4 tahun, cenderung untuk bermain bersama dengan anak yang jenis kelaminnya sama, serta bisa diintervensi temperamennya

 

Dari tabel tersebut dapat dilihat bahwa perkembangan ekspresi emosi bayi/anak merupakan hal yang normal bahkan penting untuk dilihat perkembangannya.

Berbagai bentuk penanganan ekspresi emosi pada anak:

  • Bayi yang berusia 7 bulan menangis ketika ditinggalkan orang tua. Hal paling mudah yang dilakukan adalah dengan tidak membuat anak menangis dengan cara pergi diam diam. Jika dilihat pada perkembangan emosinya (pada tabel), merupakan hal yang normal pada bayi untuk merasa cemas ditinggal oleh orang terdekat dengannya. Jadi, jika anak Anda menangis ketika Anda tinggalkan, bahwa di titik tersebut adalah tanda bagi anak Anda, Anda adalah orang yang dekat dengannya, yang membuatnya nyaman, bersyukurlah dengan hal tersebut. Akan tetapi dengan pergi diam-diam supaya tidak membuatnya menangis adalah cara yang kurang tepat, karena dengan begitu orang dewasa ‘mengajarkan’ pada anak untuk menghindari kecemasan, bukan untuk menghadapi apa yang membuatnya cemas. Kecemasan adalah hal yang tidak membuat nyaman, namun kita bisa mengajarkan anak untuk menghadapi kecemasannya dan ketidaknyamanannya tersebut, bukan dengan menghindarinya. Secara filosofis, bukankah kita ingin anak tahu caranya menghadapi permasalahan, bukannya lari dari permasalahan. Pamit seperlunya, peluk, dan katakan kapan akan kembali dan lambaikan tangan. Anak perlu melihat Anda pergi seperti juga ia perlu melihat Anda kembali dan menghabiskan waktu dengannya saat kembali, bukan sebagai penebus rasa bersalah karena sudah Anda tinggalkan untuk sementara waktu, namun karena luapan kasih sayang untuk bersama dengannya. Pada usia ini anak akan menangis, namun dia juga bisa dialihkan dengan kegiatan lain bersama orang yang Anda percayai.

  • Beberapa anak memiliki rasa takut bertemu untuk orang yang baru dikenalnya, beberapa anak butuh waktu untuk bisa bersalaman, mengobrol, ataupun bermain bersama dengan orang baru. Jika anak merasa takut, kurang tepat mengatakan kepadanya untuk tidak takut, tapi lebih baik jika sebagai orang tua, kita pahami bahwa dia takut. Pada anak usia 8 bulan yang merasa takut bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, hal tersebut adalah hal yang normal (lihat tabel). Yang perlu dilakukan adalah dengan tidak ‘memaksa’ anak untuk tidak takut, namun berikan waktu pada anak untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Jika anak berusia 2 tahun misalnya, kita bisa mengintervensi dengan menyatakan bahwa kita tahu bahwa dia takut. Hal ini membantu anak mengenal emosi yang dia rasakan dan juga memberikan kepercayaan pada anak untuk dapat berbaur dengan kondisi yang baru dialaminya. Sebagai orang dewasa, kita bisa memfasilitasi anak 2 tahun untuk memberi nama hal-hal yang membuatnya tidak nyaman, apakah itu rasa takut, marah, sedih, ataupun bentuk ekspresi emosi lainnya. Kenalkan berbagai nama emosi tersebut yang sama kongkritnya dengan cara mengenalkan anggota tubuh kepada anak. Jika pengenalan anggota tubuh bisa dilakukan dengan meminta anak menunjukkan mata, hidung, kepala (kurang lebih usia 1 tahun), maka pengenalan emosi juga bisa dilakukan dengan meminta anak menunjukkan ekspresi muka tertentu (sedih, senang, marah) dimulai pada usia 18 bulan. Pengenalan ekspresi secara bertahap mulai dikenalkan dengan kompleks, seperti malu, bangga, takut, dan seterusnya.

  • Jika ada anak laki-laki, 3 tahun, menangis ketika merasa sakit, saat terjatuh, saat menolak untuk bermain di tempat tinggi. Tak perlu melarangnya untuk menangis, untuk berpendapat bahwa laki-laki tidak boleh cengeng. Menangis adalah ekspresi emosi normal yang disebabkan karena ketidaknyamanan, mungkin takut, mungkin sedih, mungkin karena sakit. Tidak masalah anak lelaki menangis, karena tidak ada teori yang mengatakan laki-laki kuat adalah laki-laki yang jarang menangis. Jika memang perilaku menangisnya dianggap terlalu sering, maka berikan alternatif lain baginya untuk menyalurkan emosi, misalnya dengan menarik napas panjang, dipeluk oleh anda, diminta beristirahat dahulu sampai sakitnya hilang, dan sebagainya. Pada usia 3 tahun modifikasi terhadap perkembangan emosi telah bisa dilakukan (lihat tabel). Tak apa jika anak mengekspresikan marah, namun yang perlu dilihat apakah ekspresi marah tersebut bisa membahayakan dirinya, membahayakan orang lain, atau menyebabkan ada yang terluka. Bukan marah yang perlu diintervensi dari anak, tapi bagaimana dia secara adaptif menyalurkan kemarahannya. Ketika dia tidak suka dengan keputusan Anda, marah dengan menghentakkan kaki dan membanting pintu kamar adalah hal yang relatif bisa diterima dibandingkan dengan dia, misalnya dengan anak merusak barang-barang disekitarnya. Orang tua juga perlu memandang ekspresi emosi anak bukanlah sebagai tanda bahwa anak menjadi durhaka, namun karena anak butuh pengekspresian emosi yang ‘sehat’. Memendam amarah, memelihara kecemasan, tidak mempedulikan rasa takut, bukanlah perkembangan emosi yang “sehat” bagi anak.

 

Kesimpulan  

  1. Balita perlu dikenalkan dengan ‘nama’ emosi. Semakin mengenal banyak ‘nama’ emosi, maka anak akan makin mengenal dirinya, karena perkembangan emosi erat kaitannya dengan perkembangan sosial anak berdasarkan pada usianya.
  2. Perhatikan usia perkembangan anak untuk melihat perkembangan emosi yang sesuai dengan usia perkembangannya. Stimulasi anak untuk mengekspresikan emosi sesuai usianya, berikan intervensi dan waspadai ketika anak menunjukkan emosi tertentu yang tidak sesuai dengan usia perkembangannya, ataupun tidak menunjukkan emosi yang semestinya ada pada usia perkembangannya.
  3. Fasilitasi anak untuk mengenal berbagai emosi (marah, takut, sedih, senang, bahagia, bangga, malu), dan selanjutnya arahkan anak untuk mengeskpresikan emosinya dengan adaptif, sehingga tidak membahayakan dirinya, membahayakan orang lain, apalagi kemudian merusak barang-barang.
  4. Perkembangan emosi balita yang terfasilitasi dengan baik menjadi salah satu cara anak kemudian memiliki kecerdasan emosional yang akan membantunya dalam bersosialisasi dan memperlakukan orang lain dan dirinya dengan patut.

 

Sumber : Lazarus, Richard (1991). Emotion and Adaptation. New York: Oxford University Press, Inc

Bee, Helen & Boyd, Denise (2010). The Growing Child. Boston: Allyn & Bacon