Cerita Tentang Organisasi Pengurangan Risiko Bencana di Kecamatan Lindu

PELANA KASIH (Program Pengelolaan Kampung Aman, Bersih, dan Sehat) merupakan salah satu program yang dilaksanakan oleh IBU Foundation di Kecamatan Lindu, Sulawesi Tengah. Salah satu kegiatan dalam program tersebut adalah pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat. Dari hal tersebut, IBU membentuk kelompok OPRB atau Organisasi Pengurangan Risiko Bencana. OPRB dibentuk di masing-masing lima desa dampingan, yaitu Desa Puro’o, Langko, Tomado, Anca, dan Olu.

IBU Foundation dan OPRB mendampingi masyarakat desa dampingan terkait kebencanaan dan pengurangan risiko bencana. Masyarakat menyadari dengan adanya pembentukan OPRB merupakan hal yang sangat penting. Karena Kecamatan Lindu merupakan salah satu wilayah terdampak bencana pada tahun 2018 silam dan berada di wilayah terpencil dari pusat kota. Dengan adanya pendampingan pengurangan risiko bencana kepada masyarakat, diharapkan ketahanan masyarakat terhadap bencana dapat meningkat.

Berikut cerita dari anggota OPRB terkait pendampingan pengurangan risiko bencana yang dilakukan oleh IBU Foundation.

“Setelah IBU Foundation memanggil Saya untuk bergabung dalam tim OPRB, banyak perubahan yang Saya rasakan. Waktu itu Saya bergabung sekitar bulan Oktober atau November (2019) lalu. Saya mengenal Biangkha (Hygiene Promotion Officer) awalnya. Aktifitas yang saya ikuti sejauh ini adalah rapat ataupun pertemuan untuk pembentukan kelompok, lalu kalau ada bencana akan dibuat ‘Kentongan’, titik-titik bencana, dan titik-titik lari atau tempat untuk pengungsian yang tepat, dan evakuasi. Kalau kita mengalami bencana, kita sudah tahu gerak-gerik harus lari kemana, apa yang harus disediakan jika mau pergi, intinya sudah tahu tindakan apa yang harus dilakukan. Dan ketika ada gempa waktu itu jam 1 pagi, Saya, istri, dan anak bisa lebih hati-hati. Saya merasa sangat gembira karena sudah mendapatkan pengetahuan ini dari IBU Foundation.”— Enos Bawias, 39 tahun, Desa Langko.

Pembentukan OPRB ini tidak hanya diikuti oleh pria saja, melainkan juga wanita dan ibu rumah tangga yang dengan senang hati ingin mendapatkan pendampingan untuk melindungi keluarganya saat bencana terjadi. Mereka ingin membuktikan bahwa wanita juga mampu menjadi bagian dalam pengurangan risiko bencana.

“Saya diajak oleh kepala desa untuk bergabung dalam tim OPRB sekitar bulan September (2019). Kita ditunjuk oleh kepala desa di setiap dusun. Disini ada tiga dusun. Setiap dusun ada empat orang untuk divisi tim OPRB, yaitu logistik, evakuasi, peringatan dini, dan kesehatan. Saya di tim logistik. Untuk tahapan-tahapan pelaksanaannya sudah ada sosialisasi, tapi untuk per dusun belum ada sosialisasinya. Tinggal pembuatan alat kalau nanti ada bencana. Kentongan yang dibuat sendiri oleh masyarakat dan jalur titik-titik kumpul. Semuanya sudah dibicarakan dan direncanakan, jadi tinggal dilaksanakan. Bagus ini. Sangat membantu masyarakat. Jadi nanti, kita bukan lagi orang yang harus ditolong ketika bencana, melainkan kitalah yang harus menolong. Saling membantu. Pokoknya perubahan yang Saya dapatkan besar sekali melalui OPRB ini. Setelah bergabung OPRB, kita jadi harus ingat dengan keberadaan orang lain. Karena kita sudah merasa lebih bertanggung jawab untuk saling membantu. Untuk OPRB-nya, Saya berharap kita bisa terus bekerja sama, sementara untuk IBU Foundation, terima kasih karena sudah membentuk kegiatan ini.”— Yeni Tondi, 32 tahun, Desa Puro’o.

“Saya bergabung di tim OPRB sekitar bulan Oktober (2019). Saya bergabung dengan OPRB untuk di bagian pertolongan pertama karena Saya punya latar belakang di bidang kesehatan. Sebelum OPRB ini Saya sudah banyak ikut kegiatan dan beberapa pelatihan lainnya. Setelah mengikuti OPRB ini, manfaat pertama yang bisa Saya dapatkan adalah bisa akrab dengan orang-orang disini, karena kebetulan Saya berasal dari Desa Puro’o. Jadi dengan adanya kejadian diare kemarin, masuk rumah ke rumah, Saya merasa menjadi lebih akrab dengan orang-orang disini. Sejauh ini implementasi ilmu dan pengetahuan yang Saya dapatkan dari kegiatan OPRB adalah saat kejadian diare kemarin. Jadi, waktu diare kemarin terjadi, Saya aplikasikan di masyarakat dan diri juga. Kesan Saya OPRB ini bagus, seperti yang diberitahukan Karin (Disaster Risk Reduction Officer), ketika ada suatu bencana, hal apa yang akan kita buat, tindakan apa yang harus kita lakukan, semuanya diajarkan. Jika teman-teman OPRB benar-benar serius belajar, suatu saat, bukan hanya kasus diare ini saja yang bisa kita tangani. Jadi, untuk saat ini, dengan keberadaan IBU Foundation. Mudah-mudahan nanti ke depannya, untuk kegiatan OPRB selanjutnya bisa ditingkatkan lagi saja, terima kasih sudah mau membantu. Saya bersyukur, dan untuk pelayanannya IBU Foundation sudah bagus.”— Gervinawati Tosuo, 35 tahun, Desa Anca.