Pelatihan Kader Perencana Pembangunan Kota Cimahi 2019

Senin-Selasa, 11-12 November 2019 adalah tahun ke-4 IBU Foundation bekerja sama dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah Kota Cimahi dalam Pelatihan Kader Perencana Pembangunan Kota Cimahi. Kegiatan yang dilaksanakan di Cimahi Techno Park dihadiri oleh para peserta dari berbagai latar belakang dan pengalaman yang tersebar di 15 kelurahan dari 3 kecamatan di Cimahi. Ada peserta yang baru dan ada pula yang telah empat kali berturut-turut ikut serta dalam pelatihan. Pengalaman menghadiri dan memfasilitasi rembuk warga dan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) pun beragam. Keberagaman tersebut memperkaya proses pelatihan, sehingga pembelajaran tidak hanya berfokus pada fasilitator kelas maupun fasilitator kelompok, namun saling berbagi informasi, pengetahuan, dan pengalaman antar peserta.

Melalui metode demonstrasi (modelling) dan simulasi (role play), peserta diajak untuk menjalani proses rembuk warga dan musrenbang, baik dengan berperan sebagai warga maupun berperan sebagai tim fasilitator. Mereka cukup antusias menjalankan peran masing-masing. Dimulai dengan mengumpulkan berbagai usulan dari warga, kemudian dilanjutkan menentukan skala prioritas berdasarkan kebutuhan mendesak dan banyaknya warga yang memperoleh dampak, membuat skala prioritas, menentukan potensi yang dimiliki dan lembaga yang terlibat, hingga menyusun anggaran berdasarkan prioritas usulan yang telah dibuat. Pengumpulan usulan dilakukan melalui media tulisan, sehingga semua warga dapat terlibat dalam menyampaikan usulan. Berbagai media visual juga digunakan untuk mempermudah proses diskusi. Selain memperdalam pengetahuan dan keterampilan memfasilitasi pembuatan skala prioritas, peta potensi, analisis lembaga, serta penyusunan anggaran, peserta juga dibekali pengetahuan mengenai berbagai isu sensitif, diantaranya terkait disabilitas, perlindungan anak, dan kesetaraan gender.

Seperti yang disampaikan oleh para kader, memfasilitasi perencanaan pembangunan itu bukanlah hal yang mudah. Sering kali, warga belum mampu membedakan kebutuhan dan keinginan. Karakteristik warga di setiap tempat pun berbeda-beda. Peran mereka lah untuk mengedukasi dan memilah mana yang merupakan kebutuhan sehingga perlu diprioritaskan, melalui proses fasilitasi yang tetap menyesuaikan dengan karakteristik di berbagai daerah.